Gagasan
Puisi

Sekat di Luar, Tungku di Dalam

Minggu, 19 Juli 2026
21 Kali Dilihat
Sekat di Luar, Tungku di Dalam

Sekat di Luar, Tungku di Dalam

Di Gang Merdeka, pagi tidak pernah dimulai oleh jam weker atau kokok ayam yang nyasar dari pinggiran kota. Pagi dimulai oleh dua suara yang saling menyahut di balik pagar bambu yang menghitam dikunyah rayap dan cuaca. Suara pertama adalah bunyi ulekan batu yang beradu mantap dengan cobek milik Mak Sinah. Suara kedua adalah derit kukusan bambu milik Cik Lian, tipis dan berirama.


Sudah tiga dekade lamanya, aroma kunyit yang diperas jemari Mak Sinah dan wangi ragi dari adonan kue keranjang Cik Lian berkelindan di udara. Mereka membentuk semacam mufakat tak tertulis: bahwa lapar tak punya warna kulit, dan perut tak pernah bertanya apa agama sang juru masak.


“Inah, ini ada sejumput merica putih dari Bangka. Masih pedas nendang, cocok buat kuah sayur beningmu,” suara Cik Lian parau, namun ada nada tulus yang gagal disembunyikan oleh uap kukusan.


Mak Sinah menyeka peluh di keningnya dengan ujung sarung. Ia mendekat ke pagar rendah yang hanya setinggi pinggang─sebuah batas yang lebih mirip meja makan daripada sekat pemisah. “Ah, Lian. Kau selalu tahu apa yang kurang di panciku. Ini, ambillah beberapa lembar daun salam. Pohon di depan sedang rimbun-rimbunnya, baunya harum sekali, bisa buat pengusir amis ikanmu”.


Mereka bertukar bumbu dalam diam yang khidmat. Sebuah ritual purba yang melampaui segala teks teologi. Bagi mereka, surga mungkin saja berbentuk sebuah dapur yang lapang, tempat rempah-rempah dari seluruh penjuru bumi bisa bertemu tanpa perlu saling sikut. 


Beberapa minggu terakhir, Gang Merdeka kehilangan keheningannya. Langit di atas pemukiman itu tampak lebih berat, bukan karena mendung, melainkan karena kibaran bendera-bendera kain yang berwarna-warni, masing-masing membawa janji yang berisik. 


Di tembok-tembok kusam, wajah-wajah pria berpakaian rapi tersenyum kaku dari poster yang mulai robek, seolah sedang mengawasi setiap langkah warga dengan tatapan yang menuntut. Udara yang biasanya hanya berbau selokan dan tumisan, kini tercemar aroma kecurigaan yang anyir.


Hendra, putra tunggal Mak Sinah yang baru saja merampungkan kuliahnya di kota seberang, duduk di ambang pintu sambil menatap layar gawainya. Jemarinya menari lincah, mengetikkan kata-kata yang terasa asing di telinga ibunya.


“Kita tidak bisa diam saja, Mak. Mereka itu pendatang tapi bertingkah seolah memiliki tanah ini. Lihat ini di grup WhatsApp, mereka sudah mulai berani menghina kita!” ujar Hendra tanpa mengalihkan pandangan. Wajahnya yang biasanya teduh, kini tampak kaku oleh pantulan cahaya biru dari layar.


Mak Sinah berhenti mengulek. Ia menatap punggung anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Siapa yang kau maksud dengan ‘mereka’ Ndra? Cik Lian? Ko Acong yang jualan kelontong?”


“Ya pokoknya mereka, Mak! Identitas kita sedang terancam. Suasana lagi panas. Mak jangan terlalu dekat dulu sama orang sebelah. Nanti kalau ada apa-apa, kita yang repot,” sahut Hendra, nadanya naik satu oktav.


Di rumah sebelah, suasana tak jauh berbeda. Menantu Cik Lian, seorang pria muda yang selalu tampak waswas, telah memasang grendel tambahan di pintu depan. Ia melarang anak-anaknya bermain di gang.


“Ma, di luar sana orang-orang sedang gila. Di media sosial, kubu sebelah sudah mengancam akan melakukan aksi. Kita harus waspada. Jangan terlalu banyak bicara dengan tetangga, kita tidak tahu siapa yang diam-diam menyimpan benci,” bisik sang menantu sambil mengintip dari balik gorden yang tersingkap sedikit.


Cik Lian hanya bisa menghela napas. Ia menatap sisa daun salam pemberian Mak Sinah yang masih hijau di atas meja. Baginya, kebencian yang dibicarakan anak-anak muda itu terasa seperti hantu yang diciptakan layar-layar kecil di tangan mereka. Hantu yang tidak pernah mencicipi betapa nikmatnya berbagi garam saat persediaan di dapur habis.


***


Puncak prahara itu datang pada sebuah Selasa yang gerah. Berawal dari sepotong video pendek yang dipotong serampangan tentang keributan di pasar induk, kabar bohong menjalar serupa riak air keruh yang mendidih dengan cepat. Di ujung Gang Merdeka, sekelompok pemuda yang bukan warga asli mulai berkumpul. Mereka membawa spanduk dan meneriakkan yel-yel yang membelah langit.


Suasana mencekam. Pintu-pintu rumah digembok rapat. Gang yang biasanya bising oleh anak-anak mendadak sunyi, kecuali untuk suara sepatu yang berderap dan teriakan yang semakin mendekat.


“Keluar! Jangan biarkan mereka menguasai kita!” suara-suara itu parau, penuh amarah yang tidak jelas sasarannya.


Di dalam rumahnya, Mak Sinah gemetar. Hendra sudah lari ke depan, bergabung dengan kerumunan pemuda desa yang merasa terpanggil untuk “menjaga kehormatan”. Tiba-tiba, terdengar suara kaca pecah dari arah rumah Cik Lian. Suara teriakan ketakutan menyusul kemudian.


Tanpa pikir panjang, Mak Sinah berlari ke pintu belakang. Dapur adalah satu-satunya wilayah yang ia kuasai sepenuhnya. Melalui celah pagar bambu yang sudah rapuh, ia melihat Cik Lian berdiri mematung di tengah dapurnya sendiri, wajahnya pucat pasi, matanya nanar menatap jendela samping yang hancur di lempar batu.


“Lian! Kemari!” teriak Mak Sinah setengah berbisik.


Cik Lian menoleh, tubuh rentanya mengigil. “Inah… mereka.. mereka bilang aku musuh.”


“Persetan dengan apa yang mereka bilang! Masuk ke sini, cepat!” Mak Sinah menarik tangan sahabatnya melewati celah pagar yang ia paksa buka.


Dua perempuan lansia itu kini berada di dalam dapur Mak Sinah yang temaram. Di luar, suara massa semakin beringas. Ada bunyi kayu dipukulkan ke tiang listrik─tanda bahaya yang kini disalahgunakan untuk mengumpulkan amuk.


“Kita harus sembunyi di bawah kolong meja?” tanya Cik Lian dengan suara tersedat.


Mak Sinah menatap tungku abunya yang masih menyisakan bara. Ia mengambil sebuah napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian dari moyangnya. “Tidak. Kita akan memasak.”


“Memasak? Inah, kau gila? Di luar sana orang-orang saling bunuh!”


“Kalau kita takut, kebencian itu menang, Lian. Biarkan mereka berteriak sampai tenggorokan mereka berdarah.  Di dapur, kita tetap manusia,” tegas Mak Sinah. Ia menyulut api tungku. Suara kretek-kretek kayu bakar yang terbakar perlahan meredam debar jantung mereka yang berpacu.


Cik Lian tertegun. Ia melihat ketenangan di mata Mak Sinah─ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Dengan tangan yang masih gemetar, Cik Lian mengambil pisau dan mulai mengupas bawang merah.


Di tengah kepulan uap air yang mulai mendidih, suasana dapur itu mendadak menjadi ruang kedap suara. Seolah-olah dinding kayu rumah Mak Sinah memiliki sihir yang mampu menepis segala caci maki dari luar.


Mak Sinah meraih tasbih kayu dari saku dasternya. Jemarinya yang kasar mulai menghitung butiran-butiran itu dalam ritme yang pelan. Mulutnya berkomat-kamit, membisikkan doa-doa keselamatan dalam bahasa Arab yang kental dengan cengkok lokal. Ia memohon agar api di luar sana tidak menghanguskan nurani anak-cucunya.


Di hadapannya, Cik Lian menundukkan kepala. Ia merogoh kalung salib kecil yang tersembunyi di balik kerah bajunya. Ia menutup mata rapat-rapat, membisikkan permohonan yang sama dalam bahasa yang berbeda. Di dalam kepalanya, ia membayangkan Tuhan sebagai sosok yang tidak butuh spanduk untuk mendengar rintihan seorang nenek yang sedang ketakutan.


Dua doa berbeda itu menguap bersama aroma tumisan bawang dan terasi. Mereka tidak berdebat tentang siapa yang akan sampai lebih dulu ke telinga Tuhan. Bagi mereka, doa adalah napas, dan dapur adalah tempat ibadah yang paling jujur.


“Inah,” bisik Cik Lian di sela-sela doanya. “Kenapa mereka begitu membenci kita? Padahal kita hanya ingin hidup tenang.’


Mak Sinah berhenti sejenak, menatap butiran tasbihnya. “Karena mereka terlalu banyak melihat layar, Lian. Mereka lupa melihat wajah manusia di depan mereka. Mereka pikir perbedaan adalah alasan untuk memukul, padahal perbedaan adalah alasan mengapa sayur lodeh ini terasa nikmat. Bayangkan kalau isinya cuma garam semua? Tak bisa dimakan, toh?”


Cik Lian tersenyum getir. Ia menyeka air matanya yang jatuh, entah karena pedasnya uap bawang atau perihnya kenyataan. “Anak-anak kita… mereka yang memulai ini semua lewat kotak ajaib itu.”


“Anak-anak kita hanya sedang tersesat dalam hutan kata-kata yang dibuat oleh orang-orang besar di atas sana. Mereka yang berebut takhta, kita yang disuruh saling hantam,” Mak Sinah mengaduk sayur di kuali dengan sendok kayu besar.


Tiba-tiba, pintu dapur digedor dengan keras.


“Mak! Mak di dalam?” suara Hendra terdengar terengah-engah, penuh kecemasan.


Mak Sinah tidak segera membuka pintu. Ia menatap Cik Lian, memberi isyarat agar sahabatnya itu tetap tenang di sudut gelap dekat lemari makan. Mak Sinah berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit.


Hendra berdiri di sana dengan wajah yang coreng-moreng oleh debu. Di tangannya ada sebilah kayu. Matanya liar, mencari-cari sesuatu. “Mak tidak apa-apa? Tadi ada yang bilang orang-orang sebelah mulai menyerang.”


Mak Sinah menatap kayu di tangan anaknya, lalu menatap mata Hendra dalam-dalam. Sebuah tatapan yang membuat keberanian palsu Hendra luruh seketika.


“Siapa yang menyerang, Ndra? Lihat Mak. Apa Mak tampak seperti orang yang sedang diserang?” suara Mak Sinah dingin dan berwibawa.


Hendra terdiam. Ia mencium aroma masakan yang akrab. Aroma yang seolah-olah mengkhianati narasi perang yang baru saja ia jalani di jalanan. Aroma nasi goreng kunyit kesukaannya, yang selalu dimasak Mak Sinah tiap kali ia merayakan sesuatu di masa kecil.


“Sini kau masuk,” Mak Sinah menarik kerah baju anaknya. “Buang kayu itu. Tidak ada tempat untuk benda bodoh itu di dapurku.”


Hendra melangkah masuk dengan ragu. Di sudut dapur, di bawah cahaya lampu lima watt yang temaram, ia melihat Cik Lian duduk diam. Di depan wanita tua itu, tersedia sepiring nasi goreng yang mengepul panas─nasi goreng yang bumbunya berasal dari kolaborasi kunyit parut Mak Sinah dan kecap asin pemberian Cik Lian tadi pagi.


“Duduk, Hendra. Makan bersama Cik Lian,” perintah Mak Sinah.


“Tapi Mak… di luar sana…”


“ Di luar sana ada kegilaan. Di sini ada kemanusiaan. Kau pilih yang mana?” Mak Sinah memotong perkataan anaknya dengan tajam.


Hendra menatap Cik Lian yang tampak begitu rapuh dan kecil. Tidak ada wajah “musuh” seperti yang ia lihat di meme media sosial atau video provokasi yang ia tonton sepanjang hari. Yang ada hanya tetangganya sejak ia masih belajar merangkak─wanita yang pernah menghadiahi dia kue keranjang tiap Imlek─yang kini menatapnya dengan sisa-sisa rasa takut namun tetap berusaha tersenyum.


Hendra melepaskan kayu di tangannya. Bunyi kayu yang jatuh di lantai tanah itu terdengar seperti sebuah pengakuan dosa yang panjang. Ia duduk di kursi kayu yang reyot, kepalanya tertunduk dalam.


“Maafkan saya, Cik Lian,” bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar di antara sisa suara keributan di kejauhan yang mulai mereda.


Cik Lian mengangguk pelan, tangannya yang keriput menggeser piring nasi goreng itu ke arah Hendra. “Makanlah, Ndra. Kau pasti lelah berteriak. Perut lapar tidak bisa diajak bicara soal ideologi.”


***


Malam itu, Gang Merdeka perlahan kembali ke dalam pelukan sunyi. Massa yang entah datang dari mana itu akhirnya bubar setelah aparat keamanan turun tangan. Spanduk-spanduk politik yang robet beterbangan ditiup angin malam, tersangkut di pagar-pagar rumah atau masuk ke dalam selokan yang hitam.


Di dapur Mak Sinah, tiga orang manusia duduk melingkari meja kecil. Tidak ada televisi yang menyala, tidak ada gawai yang berkedip. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring.


Mak Sinah menatap ke arah jendela. Ia tahu, esok pagi mungkin suasana masih akan terasa kaku. Mungkin anak-anak muda itu masih akan saling lirik dengan penuh dendam di media sosial. Namun, ia juga tahu, selama api di tungkunya masih bisa berbagi kayu bakar dengan dapur sebelah, maka sekat setinggi apa pun yang dibangun oleh politik takkan pernah benar-benar mampu memisahkan mereka.


Sebab di atas langit yang satu, doa-doa yang tulus tidak pernah memerlukan paspor atau identitas. Mereka terbang dengan sayap yang sama: harapan akan kedamaian.


“Inah,” panggil Cik Lian sebelum ia pamit pulang melalui celah pagar yang sama. “Besok pagi, aku punya sedikit gula merah dari Jawa. Mau buat kolak bersama?”


Mak Sinah tersenyum, kerutan di wajahnya membentuk garis-garis kebijakan yang indah. “Tentu, Lian. Aku punya santan yang segar. Kita buat kolak yang paling manis, agar lidah orang-orang di gang ini tidak hanya tahu rasanya pahitnya amarah.”


Mereka pun berpisah. Dua tubuh renta yang kembali ke peraduan masing-masing, meninggalkan dapur yang masih hangat oleh sisa uap doa. Di luar, dunia mungkin masih sibuk membelah diri menjadi “kita” dan “mereka”, namun di dalam tungku itu, segalanya telah lebur menjadi satu rasa yang tak terkatakan.


Fajar esok akan datang lagi. Dan Mak Sinah sudah menyiapkan cobeknya, sementara Cik Lian sudah membersihkan kukusannya. Karena bagi mereka, merawat tetangga adalah cara paling purba untuk merawat Tuhan.


Selengkapnya: https://identitasunhas.com/sekat-di-luar-tungku-di-dalam/